RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani

