Senin, 23 November 2015
Sabtu, 17 Oktober 2015
SEJARAH KOPERASI
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada
umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh
orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika
penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem
kapitalisme semakin memuncak. Beberapa orang yang penghidupannya sederhana
dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi
yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan
manusia sesamanya.
Koperasi pertama kali diperkenalkan
oleh seorang berkebangsaan Skotlandia, yang bernama Robert Owen (1771-1858).
Setelah koperasi berkembang dan diterapkan di beberapa Negara-negara Eropa.
Koperasi pun mulai masuk dan berkembang di Indonesia.
Di Indonesia koperasi mulai
diperkenalkan oleh Patih R.Aria Wiria Atmaja pada tahun 1896, dengan melihat
banyaknyak para pegawai negeri yang tersiksa dan menderita akibat bunga yang
terlalu tinggi dari rentenir yang memberikan pinjaman uang. Melihat penderitaan
tersebut Patih R.Aria Wiria Atmaja lalu mendirikan Bank untuk para pegawai
negeri, beliau mengadopsi system serupa dengan yang ada di Jerman yakni
mendirikan koperasi kredit. Beliau berniat membantu orang-orang agar tidak lagi
berurusan dengan renternir yang pasti akan memberikan bunga yang tinggi.
Seorang asisten residen Belanda
bernama De Wolffvan Westerrode, merespon tindakan Patih R.Aria Wiria, sewaktu
mengunjungi Jerman De Wolffvan Westerrode menganjurkan akan mengubah Bank
Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan
Pertanian. Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin
menderita karena tekanan para pengijon. Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut
menjadi koperasi. Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang
menganjurkan para petani menyimpan pada pada musim panen dan memberikan
pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik. Ia pun berusaha menjadikan
lumbung-lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi. Tetapi Pemerintah Belanda
pada waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan
Lumbung Desa tidak dijadikan Koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk
lumbung-lumbung desa baru, bank –bank Desa , rumah gadai dan Centrale Kas yang
kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Semua itu adalah badan usaha
Pemerintah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah.
Setelah itu
koperasi mulai cepat berkembang di Indonesia, hal ini juga didorong sifat
orang-orang Indonesia yang cenderung bergotong royong dan kekeluargaan sesuai
dengan prinsip koperasi. Bahkan untuk mengansitipasi perkembangan ekonomi yang
berkembang pesat pemerintahan Hindia-Belanda pada saat itu mengeluarkan
peraturan perundangan tentang perkoperasian. Pertama, diterbitkan Peraturan
Perkumpulan Koperasi No. 43, Tahun 1915, lalu pada tahun 1927 dikeluarkan pula
Peraturan No. 91, Tahun 1927, yang mengatur Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi
bagi golongan Bumiputra. Pada tahun 1933, Pemerintah Hindia-Belanda menetapkan
Peraturan Umum Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi No. 21, Tahun 1933. Peraturan
tahun 1933 itu, hanya diberlakukan bagi golongan yang tunduk kepada tatanan
hukum Barat, sedangkan Peraturan tahun 1927, berlaku bagi golongan Bumiputra.
Setelah pemerintahan
Hindia-belanda menunjukkan sikap diskriminasi dalam peraturan yang dibuatnya.
Pada tahun 1908 Dr. Sutomo yang merupakan pendiri dari Boedi Utomo memberikan
perananya bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat.
Serikat
Dagang Islam (SDI) 1927, Dibentuk bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan
ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai
Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.
Setelah
jepang berhasil menguasai sebagian besar daerah asia, termasuk Indonesia,
system pemerintahan pun berpindah tangan dari pemerintahan Hindia-Belanda ke
pemerintahan Jepang. Jepang lalu mendirikan koperasikumiyai, namun
hal ini hanya dimanfaatkan Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan
rakyat Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 juli 1947,
pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di
Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi
Indonesia.Sekaligus membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia
(SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya (Bandung sebagai
ibukota provinsi sedang diduduki oleh tentara Belanda).
Lalu kita
mengenal Moh. Hatta sebagai bapak koperasi. Beliau mengusulkan didirikannya 3
macam koperasi :
1.
Pertama,
adalah koperasi konsumsi yang terutama melayani kebutuhan kaum buruh dan
pegawai.
2.
Kedua,
adalah koperasi produksi yang merupakan wadah kaum petani (termasuk peternak
atau nelayan).
3.
Ketiga,
adalah koperasi kredit yang melayani pedagang kecil dan pengusaha kecil guna
memenuhi kebutuhan modal.
Bung Hatta mengatakan bahwa tujuan
koperasi yang sebenarnya bukan mencari laba atau keuntungan, namun bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan bersama anggota koperasi.
PERIODE SEBELUM KEMERDEKAAN
Koperasi
adalah institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan
kerjasama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia
sampai pada awal Revolusi Industrial di Eropa pada akhir abad 18 dan selama
abad 19, sering disebut sebagai Koperasi Historis atau Koperasi Pra-Industri.
Koperasi Modern didirikan pada akhir abad 18, terutama sebagai jawaban atas
masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revolusi Industri.
Di
Indonesia, ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di
Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmadja yang pada tahun 1896 mendirikan
sebuah Bank untuk Pegawai Negeri. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya
diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode.
Pada
tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi
gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat
peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927
Regeling Inlandschhe Cooperatiev.
Pada
tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan
kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929,
berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat
koperasi. Hingga saat ini kepedulian pemerintah terhadap keberadaan koperasi
nampak jelas dengan membentuk lembaga yang secara khusus menangani pembinaan
dan pengembangan koperasi.
Kronologis
lembaga yang menangani pembinaan koperasi pada saat itu adalah sebagai
berikut:
Tahun
1930
Pemerintah
Hindia Belanda membentuk Jawatan Koperasi yang keberadaannya dibawah
Departemen Dalam Negeri, dan diberi tugas untuk melakukan pendaftaran dan
pengesahan koperasi, tugas ini sebelumnya dilakukan oleh Notaris.
Tahun
1935
Jawatan
Koperasi dipindahkan ke Departemen Economische Zaken, dimasukkan dalam usaha
hukum (Bafdeeling Algemeene Economische Aanglegenheden). Pimpinan Jawatan
Koperasi diangkat menjadi Penasehat.
Tahun
1939
Jawatan
Koperasi dipisahkan dari Afdeeling Algemeene Aanglegenheden ke Departemen
Perdagangan Dalam Negeri menjadi Afdeeling Coperatie en Binnenlandsche
Handel. Tugasnya tidak hanya memberi bimbingan dan penerangan tentang
koperasi tetapi meliputi perdagangan untuk Bumi Putra.
Tahun
1942
Pendudukan
Jepang berpengaruh pula terhadap keberadaan jawatan koperasi. Saat ini
jawatan koperasi dirubah menjadi SYOMIN KUMIAI TYUO DJIMUSYO dan Kantor di
daerah diberi nama SYOMIN KUMIAI DJIMUSYO.
Tahun
1944
Didirikan
JUMIN KEIZAIKYO (Kantor Perekonomian Rakyat) Urusan Koperasi menjadi
bagiannya dengan nama KUMAIKA, tugasnya adalah mengurus segala aspek yang
bersangkutan dengan Koperasi.
|
PERIODE SETELAH KEMERDEKAAN
Tahun
1945
Koperasi
masuk dalam tugas Jawatan Koperasi serta Perdagangan Dalam Negeri dibawah
Kementerian Kemakmuran.
Tahun
1946
Urusan
Perdagangan Dalam Negeri dimasukkan pada Jawatan Perdagangan, sedangkan Jawatan
Koperasi berdiri sendiri mengurus soal koperasi.
Tahun
1947 - 1948
Jawatan
Koperasi dibawah pimpinan R. Suria Atmadja, pada masa ini ada suatu peristiwa
yang cukup penting yaitu tanggal 12 Juli 1947, Gerakan Koperasi mengadakan
Kongres di Tasikmalaya dan hasil Kongres menetapkan bahwa tanggal 12 Juli
dinyatakan sebagai Hari Koperasi.
Tahun
1949
Pusat
Jawatan Koperasi RIS berada di Yogyakarta, tugasnya adalah mengadakan kontak
dengan jawatan koperasi di beberapa daerah lainnya. Tugas pokok yang dihasilkan
telah melebur Bank dan Lumbung Desa dialihkan kepada Koperasi. Pada tahun yang
sama yang diundangkan dengan Regeling Cooperatieve 1949 Ordinasi 7 Juli 1949
(SBT. No. 179).
Tahun
1950
Jawatan
Koperasi RI yang berkedudukan di Yogyakarta digabungkan dengan Jawatan Koperasi
RIS, bekedudukan di Jakarta.
Tahun
1954
Pembina
Koperasi masih tetap diperlukan oleh Jawatan Koperasi dibawah pimpinan oleh
Rusli Rahim.
Tahun
1958
Jawatan
Koperasi menjadi bagian dari Kementerian Kemakmuran.
Tahun
1960
Perkoperasian
dikelola oleh Menteri Transmigrasi Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa
(TRANSKOPEMADA), dibawah pimpinan seorang Menteri yang dijabat oleh Achmadi.
Tahun
1963
Transkopemada
diubah menjadi Departemen Koperasi dan tetap dibawah pimpinan Menteri Achmadi.
Tahun
1964
Departemen
Koperasi diubah menjadi Departemen Transmigrasi dan Koperasi dibawah pimpinan
Menteri ACHMADI kemudian diganti oleh Drs. Achadi, dan Direktur Koperasi
dibawah pimpinan seorang Direktur Jenderal yang bernama Chodewi Amin.
PERIODE TAHUN 1966 - 2004
Tahun
1966
Dalam
tahun 1966 Departemen Koperasi kembali berdiri sendiri, dan dipimpin oleh Pang
Suparto. Pada tahun yang sama, Departemen Koperasi dirubah menjadi Kementerian
Perdagangan dan Koperasi dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo,
sedangkan Direktur Jenderal Koperasi dijabat oleh Ir. Ibnoe Soedjono (dari
tahun 1960 s/d 1966).
Tahun
1967
Pada
tahun 1967 diberlakukan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian
tanggal 18 Desember 1967. Koperasi masuk dalam jajaran Departemen Dalam Negeri
dengan status Direktorat Jenderal. Mendagri dijabat oleh Basuki Rachmad, dan
menjabat sebagai Dirjen Koperasi adalah Ir. Ibnoe Soedjono.
Tahun
1968
Kedudukan
Direktorat Jenderal Koperasi dilepas dari Departemen Dalam Negeri, digabungkan
kedalam jajaran Departemen Transmigrasi dan Koperasi, ditetapkan berdasarkan :
1. Keputusan Presiden Nomor
183 Tahun 1968 tentang Susunan Organisasi Departemen.
2. Keputusan Menteri Transmigrasi
dan Koperasi Nomor 120/KTS/ Mentranskop/1969 tentang Kedudukan Tugas Pokok dan
Fungsi Susunan Organisasi berserta Tata Kerja Direktorat Jenderal Koperasi.
Menjabat
sebagai Menteri Transkop adalah M. Sarbini, sedangkan Dirjen Koperasi tetap Ir.
Ibnoe Soedjono.
Tahun
1974
Direktorat
Jenderal Koperasi kembali mengalami perubahan yaitu digabung kedalam jajaran
Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, yang ditetapkan berdasarkan
:
1. Keputusan Presiden Nomor 45
Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan
Koperasi.
2. Instruksi Menteri Tenaga
Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Nomor : INS-19/MEN/1974, tentang Susunan
Organisasi Direktorat Jenderal Koperasi tidak ada perubahan (tetap
memberlakukan Keputusan Menteri Transmigrasi Nomor : 120/KPTS/Mentranskop/1969)
yang berisi penetapan tentang Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Koperasi.
Menjabat
sebagai Menteri adalah Prof. DR. Subroto, adapun Dirjen Koperasi tetap Ir.
Ibnoe Soedjono.
Tahun
1978
Direktorat
Jenderal Koperasi masuk dalam Departemen Perdagangan dan Koperasi, dengan Drs.
Radius Prawiro sebagai Menterinya. Untuk memperkuat kedudukan koperasi dibentuk
puia Menteri Muda Urusan Koperasi, yang dipimpin oleh Bustanil Arifin, SH.
Sedangkan Dirjen Koperasi dijabat oleh Prof. DR. Ir. Soedjanadi Ronodiwiryo.
Tahun
1983
Dengan
berkembangnya usaha koperasi dan kompleksnya masalah yang dihadapi dan
ditanggulangi, koperasi melangkah maju di berbagai bidang dengan memperkuat
kedudukan dalam pembangunan, maka pada Kabinet Pembangunan IV Direktorat
Jenderal Koperasi ditetapkan menjadi Departemen Koperasi, melalui Keputusan
Presiden Nomor 20 Tahun 1983, tanggal 23 April 1983.
Tahun
1991
Melalui
Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 1991, tanggal 10 September 1991 terjadi
perubahan susunan organisasi Departemen Koperasi yang disesuaikan keadaan dan
kebutuhan.
Tahun
1992
Diberlakukan
Undang-undang Nomor : 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, selanjutnya mancabut
dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Nomor: 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Perkoperasian.
Tahun
1993
Berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor : 96 Tahun 1993, tentang Kabinet Pembangunan VI dan
Keppres Nomor 58 Tahun 1993, telah terjadi perubahan nama Departemen Koperasi
menjadi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. Tugas Departemen
Koperasi menjadi bertambah dengan membina Pengusaha Kecil. Hal ini merupakan
perubahan yang strategis dan mendasar, karena secara fundamental golongan
ekonomi kecil sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan dan harus ditangani secara
mendasar mengingat yang perekonomian tidak terbatas hanya pada pembinaan
perkoperasian saja.
Tahun
1996
Dengan
adanya perkembangan dan tuntutan di lapangan, maka diadakan peninjauan kembali
susunan organisasi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, khususnya
pada unit operasional, yaitu Ditjen Pembinaan Koperasi Perkotaan, Ditjen
Pembinaan Koperasi Pedesaan, Ditjen Pembinaan Pengusaha Kecil. Untuk
mengantisipasi hal tersebut telah diadakan perubahan dan penyempurnaan susunan
organisasi serta menomenklaturkannya, agar secara optimal dapat menampung
seluruh kegiatan dan tugas yang belum tertampung.
Tahun
1998
Dengan
terbentuknya Kabinet Pembangunan VII berdasarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor : 62 Tahun 1998, tanggal 14 Maret 1998, dan Keppres Nomor 102
Thun 1998 telah terjadi penyempurnaan nama Departemen Koperasi dan Pembinaan
Pengusaha Kecil menjadi Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil, hal ini
merupakan penyempurnaan yang kritis dan strategis karena kesiapan untuk
melaksanakan reformasi ekonomi dan keuangan dalam mengatasi masa krisis saat
itu serta menyiapkan landasan yang kokoh, kuat bagi Koperasi dan Pengusaha
Kecil dalam memasuki persaingan bebas/era globalisasi yang penuh tantangan.
Tahun
1999
Melalui
Keppres Nomor 134 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara, maka Departemen
Koperasi dan PK diubah menjadi Menteri Negara Koperasi dan Pengusaha Kecil dan
Menengah.
Tahun
2000
1. Berdasarkan Keppres Nomor 51
Tahun 2000 tanggal 7 April 2000, maka ditetapkan Badan Pengembangan Sumber Daya
Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah.
2. Melalui Keppres Nomor 166
Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen. maka dibentuk Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi dan Pegusaha
Kecil dan Menengah (BPS-KPKM).
3. Berdasarkan Keppres Nomor
163 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara, maka Menteri
Negara Koperasi dan PKM diubah menjadi Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah.
4. Melalui Keppres Nomor 175
Tahun 2000 tanggal 15 Desember 2000 tentang Susunan Organisasi dan Tugas
Menteri Negara, maka Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM diubah menjadi
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
Tahun
2001
1. Melalui Keppres Nomor 101
Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara, maka dikukuhkan
kembali Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
2. Berdasarkan Keppres Nomor
103 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Non Pemerintah, maka
Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah
dibubarkan.
3. Melalui Keppres Nomor 108
Tahun 2001 tanggal 10 Oktober 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I
Menteri Negara, maka Menteri Negara Koperasi dan UKM ditetapkan membawahi
Setmeneg, Tujuh Deputi, dan Lima Staf Ahli. Susunan ini berlaku hingga tahun
2004 sekarang ini.
Sumber:
Kelompok 7 (2EB13):
- Anindita Wulandari
Putri
- Deni Fariz
- Rima Nungky
Selasa, 16 Juni 2015
TARI JAIPONG
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri). Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong. Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual. Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Tari Jaipong
Tari Jaipong
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri).
Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong.
Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.
Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Tari Jaipong
| |
PENGENALAN
Tari Jaipong atau dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian yang diciptakan pada tahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, ketika Presiden Soekarno melarang musik rock and roll dan musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong merupakan perpaduan gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan pencak silat (bela diri). Ketuk tilu sangat populer di desa, tetapi pada saat itu dianggap buruk di kalangan perkotaan, karena gerakannya yang sensual, bahkan erotis. Tak jarang penari ketuk tilu merangkap juga sebagai pelacur. Dalam karyanya, Gugum Gumbira pada saat itu berusaha melestarikan bentuk dasar ketuk tilu, tetapi dengan tempo musik yang dipercepat. Sehingga membuat penari menjadi lebih aktif. Ia juga mempertahankan bentuk tradisioanl ketuk tilu, di mana penari merangkap sebagai penyanyi, tetepi dipadukan dengan gamelan urban dengan ditambah suara kendang. Nama jaipong adalah onomatope dari suara kendang yang sering terdengar di antara tarian ini. Mulut penonton dan pemain musik biasanya meneriakan aksen tiruan dari suara kendang: ja-i-pong, ja-ki-nem, atau ja-i-nem. Ada juga yang mengatakan bahwa nama jaipong mengacu pada bunyi kendang: plak, ping, pong. Pada awal kemunculannya, jaipong merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian-tarian tradisional Sunda sebelumnya yang mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tak boleh menatap pasangannya. Lain dengan jaipong yang pada saat itu terpengaruh juga oleh budaya dansa Barat di ball room, penari diharuskan fokus menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual. Tari jaipong mulai ditampilkan di depan umum pada 1974 dalam Hong Kong Arts Festival, melibatkan penyanyi-penari Tatih Saleh, Gugum Gumbira sebagai koreografer, dan Nandang Barmaya, seorang musisi sekaligus dalang. Ketika itu pemerintah sempat berupaya melarang tarian ini karena dirasa cenderung amoral dan sensual. Tetapi alih-alih meredup, jaipong malah makin populer, terutama di era 80-an. Bentuk tari jaipong kala itu tidak lagi disajikan sebagai tarian pergaulan seperti ronggeng, tayub atau ketuk tilu, di mana posisi penonton sejajar dengan penari, tetapi sebagai tarian panggung. Jaipong biasa dilakukan oleh penari perempuan, tetapi bisa juga dilakukan secara berpasangan.
GERAKAN JAIPONG
Jaipong memiliki dua kategori dalam gerakannya:
1. Ibing Pola (Tarian Berpola)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Tarian ini biasanya dilakukan secara rampak (berkelompok) dikoreografi, disajikan dalam panggung untuk kebutuhan tontonan saja.
2. Ibing Saka (Tarian Acak)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Penyajian jenis ini populer di kawasan Subang dan Karawang, disebut juga sebagai Bajidor. Bajidor sendiri sering diasosiasikan sebagai akronim Barisan Jelama Boraka (Barisan Orang-orang Durhaka). Tarian ini lebih merakyat karena, posisi penonton sejajar dengan penari. Dan penonton bisa ikut menari.
POLA JAIPONG
Rangkaian gerak tari jaipong dapat dibedakan menjadi empat bagian:
1. Bukaan, merupakan gerakan pembuka,
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
2. Pencugan, merupakan bagian kumpulan gerakan-gerakan,
3. Ngala, bisa juga disebut titik merupakan pemberhentian dari rangkaian tarian, dan
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
4. Mincit, merupakan perpindahan atau peralihan.
Gerakan dasar tarian ini sering disebut 3G akronim dari Geol (gerakan pinggul memutar), Gitek (gerakan pinggul menghentak dan mengayun), Goyang (gerakan ayunan pinggul tanpa hentakkan). Dewasa ini tari jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting di Jawa Barat. Tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat biasa disambut dengan pertunjukan tari jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara.
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Tari Jaipong juga banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
menarik setiap waktu.
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)
Jumat, 01 Mei 2015
TUGAS KELOMPOK
RESUME
SEKTOR
PERTANIAN
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen: Ali
Akbar Gayo, SE. MM
Oleh :
ü
Anindita Wulandari Putri
()
ü
Aliftia Zhara ()
ü
Dian Sari Pramono ()
ü
Intan Apriani ()
ü
Johanes Christofer
(25214680)
ü
Nilam Purnama Sari()
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA
10.1 Sektor Pertanian di Indonesia
Sektor pertanian
merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian di Indonesia. Sampai
tahun 1991 sektor pertanian menyumbang 17,66 persen terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) nasional dan menyerap 49,24 persen tenaga kerja nasional. Di
samping itu sektor pertanian juga menyangga kehidupan sekitar 77,74 persen
penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, serta merupakan pendukung utama
sektor agroindustri dalam mendorong/memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indanesia,
maka pengembangan sektor i n i perlu terus ditingkatkan. Namun mefihat lemahnya
daya saing sektor ini dalam menyerap investasi maka peranan pemerintah dalam
pengembangan sektor ini perlu lebih ditingkatkan lagi agar laju pertumbuhan
sektor ini tidak tertinggal jauh dengan sektor lainnya. Pada prinsipnya, .suatu
kebfjaksanaan investasi dalam pengembangan suatu sektor seperti pertanian perlu
dilandasi oleh pengetahuan tentang keterkaitan antar sektar dalam perekonomian
secara keseluruhan. Pernusatan investasi bagi pengembangan sektor pertanian
tertentu seharusnia didasari pada sektor-sektor yang kaitan intersektoralnya
sangat kuat. Sektor yang dikembangkan hams rnampu mendorong pertumbufian sektor
lainnya melalui keterkaitan baik dari segi input maupun outputnya.
10.2 Nilai
Tukar Petani
Nilai tukar petani (NTP)
adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang
dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.[1][2][3] Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan
tingkat kesejahteraan petani.[4] Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.[1]
Indeks harga yang diterima
petani (IT) adalah indeks harga
yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari
nilai IT, dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani.
Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan
sektor pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan
rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun
kebutuhan untuk proses produksi pertanian. Dari IB, dapat dilihat fluktuasi
harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar
dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Perkembangan IB juga dapat menggambarkan
perkembangan inflasi di pedesaan.
IB dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya
produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang dan jasa non
makanan.
Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian :
- NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu lebih baik dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata
lain petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar
dari pengeluarannya.
- NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu sama dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani
mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
- NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode
tertentu menurun dibandingkan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain
petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani
turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.
Nilai tukar petani dapat bervariasi di setiap daerah dan berfluktuasi
seiring waktu. Nilai tukar petani dihitung secara skala nasional maupun lokal.
Nilai tukar petani secara nasional pada periode Oktober 2013 mengalami
peningkatan 0.71% dari 104,56 poin pada periode September 2013 ke 105,30 poin
namun secara lokal, misal di Jambi, didapatkan hasil yang berbeda. Di Jambi pada periode yang sama nilai
tukar petani naik sebesar 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari
87,56 point menjadi 88,11 point pada Oktober 2013 Peningkatan nilai tukar
petani di Bali juga dilaporkan berbeda, yakni sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen
pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan Oktober 2013.
Orientasi pembangunan saat
ini yang berfokus pada industri dan modal cenderung mengesampingkan pembangunan
pertanian pedesaan, sehingga indikator nilai tukar petani tidak masuk ke dalam
tujuan pembangunan.
10.3 Investasi di Sektor Pertanian.
Kurang lebih 18% dari
penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian, sebagian besar dalam skala
sangat kecil. Oleh karena 2/3 dari penduduk miskin di negara ini bekerja di
sektor pertanian, maka kemajuan di sektor pertanian berpengaruh pada bangkitnya
industri yang berhubungan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pengurangan
kemiskinan.
Setelah Indonesia berhasil
mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984, tidak ada kemajuan ekonomi yang
berarti sampai tahun 1997, peningkatan produksi juga terutama dititikberatkan
pada pangan selain beras. Setelah krisis yang melanda Asia pada tahun 1998,
harga pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak tinggi, ditambah lagi dengan
paceklik dan bencana alam, dan lain-lain sangat mempengaruhi produktifitas
beras. Sampai saat sekarangpun stabilitas pengadaan beras masih bermasalah,
maka akhir-akhir ini timbul kembali kesadaran terhadap pentingnya menjaga
produktifitas beras.
Jepang, melalui berbagai
macam skemanya telah memberikan bantuan terhadap kemajuan di sektor pertanian
di Indonesia seperti pembenahan fondasi produksi pertanian, tehnik produksi
pertanian, strategi pertanian, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Oleh
karena di Indonesia terdapat musim hujan dan kemarau, maka ketersediaan air
selama setahun menjadi hal yang krusial, pembenahan sistim irigasi yang
merupakan fondasi produksi pertanian, berpengaruh besar terhadap naiknya produktifitas
pertanian.
Bantuan pembenahan sistim
irigasi di Indonesia oleh Jepang, dilakukan melalui pinjaman Yen. Sampai dengan
tahun 2007, telah dilaksanakan 49 proyek pembenahan irigasi dengan nilai
bantuan sebesar 291,6 milyar Yen. Melalui proyek ini, irigasi pada sawah seluas
370 ribu hektar telah berfungsi kembali. Bantuan ini dimulai pada tahun 1970,
melalui proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa
Timur, kemudian dilanjutkan dengan proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera
Utara(1971), berikutnya proyek Wai Jepara di propinsi Lampung (1973), proyek
sejenis ini banyak dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera. Memasuki era tahun
1980, dilaksanakan proyek irigasi di Riau Kanan, propinsi Kalimantan Selatan
(1984), proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan(1985), dilanjutkan
dengan proyek control irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
(1989), dan lain-lain.
Demikianlah, diluar pulau
Jawa dan Sumatrapun, proyek pembenahan irigasi ini telah dilaksanakan. Saat
ini, di pulau Jawa dan Sumatra, melalui skema pinjaman Yen, sedang dilaksanakan
proyek perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi yang telah ada (Proyek
rehabilitasi dan pemeliharaan), kemudian untuk wilayah timur Indonesia seperti
propinsi-propinsi di pulau Sulawesi, propinsi Nusa Tenggara Barat, propinsi
Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain, sedang dilakukan pula proyek pembangunan
dan perbaikan fasilitas irigasi (Proyek manajemen irigasi skala kecil).
Pada proyek manajemen
irigasi skala kecil, disamping pembenahan fasilitas irigasi, dibuat juga
koperasi yang mengatur aliran air agar dapat digunakan dengan lebih efektif dan
efisien, peningkatan kapabilitas pemerintah propinsi dan kabupaten, dan juga
penerapan teknik intensifikasi beras (SRI:System of Rice Intensification) proyek yang dilaksanakan dengan
kombinasi dari kegiatan ini berhasil meningkatkan produktifitas pertanian dan
juga penghasilan para petani. Di laporkan bahwa koperasi penggunaan air yang
bertugas menjaga fasilitas irigasi, berhasil menjalankan organisasinya dan
menghasilkan keuntungan, irigasinya juga dipelihara dengan baik.
Dengan memanfaatkan irigasi
yang telah teratur sehingga pengairan dapat dilakukan dengan sehemat mungkin
(irigasi terpotong) SRI adalah sistim menanam dengan menggunakan bibit padi
lebih sedikit dari cara menanam biasa. Setelah dilakukan perbandingan dengan
wilayah yang menerapkan sistim penanaman biasa, penerapan sistem SRI pada
beberapa proyek percobaan telah membuktikan bahwa sistem SRI dapat menaikkan
produksi sebesar 84%, penggunaan air irigasi 40% lebih sedikit, dengan biaya
operasi 25% lebih rendah. Menurut survey terhadap petani yang dilakukan di 5
propinsi yang menghasilkan keuntungan, didapat jawaban bahwa setelah
diterapkannya sistim ini, disamping produksi berasnya naik, penghasilanpun
bertambah, disamping itu, sebagian besar penghidupan petanipun meningkat.
10.4 Keterkaitan Pertanian
Dengan Industri Manufaktur.
Ada beberapa alasan
(yang dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan dalam bukunya Perekonomian Indonesia)
kenapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi
di negara Indonesia, yakni sebagai berikut :
1.
Sektor
pertanian yang kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah
satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan
pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan
pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan
politik.
2.
Dari sisi
permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat
pendapatan rill per kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu
sumber permintaan terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur.
Khususnya di Indonesia, dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan
mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan
pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.
Dari sisi
penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor
industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.
Masih
dari sisi penawaran, pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan
surplus di sektor tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor
industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat
penting untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang
memiliki tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)…
Ketika hal ini berjalan
dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan
dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang
kita produksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan
pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya
kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/15/keterkaitan-pertanian-dengan-industri-manufaktur-439256.html
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/38405?show=full
http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_tukar_petani
Langganan:
Postingan (Atom)


